Selamat Datang di Blog Pesantren Nahdlatul Ulum Cempaka Kresek Tangerang

Senin, 14 Mei 2012

SYEKH HASAN BASHRI CAKUNG

SYEKH HASAN BASHRI
BANGSAWAN BANTEN DI ‘TANAH PARA WALI’
Oleh
Imaduddin Utsman


Pada sekitar tahun 1675,  Pangeran Solih atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Arya Banten atau Kibuyut Peking (bukan Pekik, karena gelar Pekik adalah gelar kakaknya yaitu Pangeran Abul Ma'ali Ahmad atau Sultan Muda yang mendampingi ayahnya, Sultan Abul Mafakhir, ia meninggal sebelum ayahnya meninggal, maka tulisan para sejarawan yang mengatakan Pangeran Abul Ma'ali atau P. Pekik sebagai Sultan ke 5 adalah salah) putra Sultan Abul mufakhir Mahmud Abdul Qadir,  menikahkan anaknya yang bernama Raden Mahmud dengan Ratu Fatimah putri seorang ulama besar di daerah Cakung,  yaitu syekh Ciliwulung. Syekh ciliwulung adalah putra raden Kenyep bin Pangeran Jaga lautan bin Sulthan Maulana Hasanuddin.
Cakung adalah sebuah desa yang dahulu masuk wilayah kecamatan Kresek-Tangerang. Setelah Kecamatan Kresek di mekarkan menjadi dua, Cakung masuk ke kecamatan baru yaitu kecamatan Gunung Kaler. Setelah wafat Syekh Ciliwulung di makamkan di Cakung-Gegunung kecamatan Binuang-Serang, bersebrangan dengan Kresek dengan  dibatasi kali cidurian.
Pernikahan Cucu Sulthan Abul Mufakhir (Raden Mahmud) dengan putri syekh ciliwulung (Ratu Fatimah) ini menghasilkan seorang anak (yang diketahui, mungkin ada anak yang lain) bernama  Raden Hasan Bashri. Yang kelak lebih dikenal dengan nama Syekh Hasan Bashri.
Selaras dengan tradisi kesantrian Cakung yang kuat, Hasan Bashri kecil di didik ilmu-ilmu agama dengan ketat oleh orang tuanya. Setelah dianggap cukup umur untuk berkelana, Hasan Bashri kemudian pergi keberbagai daerah untuk menuntut ilmu.
Ketika itu Banten di bawah pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa yang sedang campuh karena menghadapi peperangan dengan kompeni Belanda dan pemberontakan yang dilancarkan orang yang mirip dengan anaknya, sultan Maulana Mansur abdul Kohar atau sultan Haji. Namun Pangeran Soleh sengaja menjauhkan Hasan Bashri dari panasnya suhu politik di kraton dan lebih memilih Cakung sebagai tempat tinggalnya.
Sejak dipesantren, Hasan bashri telah menampakan kekeramatannya. Setelah mengaji di Cakung ia melanjutkan pengelanaan ilmiyahnya ke Lempuyang untuk berguru kepada pamannya Syekh Sauddin bin Syekh Ciliwulung.  Ia mengabdikan dirinya kepada Kiayi dengan mengasuh putra kiayi yang masih kecil. Dihikayatkan gurunya ini merasa aneh karena putranya selalu pulang ke rumah dengan membawa buah korma yang masih muda. Kemudian ia menyelidiki dari mana anaknya ini mendapatkan buah korma muda itu. Setelah itu diketahui bahwa buah kurma muda itu adalah pemberian Hasan Bashri.
Setelah beberapa tahun mesantren kebeberapa pesantren, Syekh Hasan Bashri mendarmabaktikan hidupnya untuk menyebarkan ilmunya di cakung. Namanya begitu harum sebagai seorang ulama yang mumpuni dan berkeramat. Di sela-sela waktunya mengajar santri ia juga berladang di sawah. Dihikayatkan bila tiba masanya untuk membajak sawah dengan kerbau Syekh Hasan Bashri membawa kerbau itu sampai pinggiran sawah. Lalu setelah itu kerbau itu pun ditiup oleh syekh hasan Bashri sehingga menjadi kecil dan kemudian diletakan di kantong bajunya. Barulah Syekh Hasan Bashri berjalan di galengan sawah untuk menuju sawahnya yang berada di tengah persawahan. Setelah ditanya kenapa Syekh melakukan yang demikian itu maka ia menjawab ia tak mau sawah orang lain terkena telapak kerbaunya tanpa ijin terlebih dahulu dari yang mempunyai sawah.
Syekh Hasan Bashri mewarisi dua muara keulamaan yang deras. Pertama dari kakeknya melalui jalur ibu yaitu syekh Ciliwulung, seorang ulama besar yang juga mashur sebagai wali dan keramatnya menyebar. Dihikayatkan suatu hari  syekh ciliwulung bergegas ke Kali cidurian kemudian ia menyiram-nyiramkan air kali ke udara beberapa lama, kemudian orang yang melihatnya merasa heran dan bertanya kenapa syekh melakukan hal tersebut?. Lalu syekh Ciliwulung berkata bahwa Masjid Cirebon kebakaran. Setelah beberapa lama ada orang dari Cirebon yang menghabarkan bahwa Masjid Cirebon kebakaran dan anehnya tiba-tiba ada hujan datang tepat hanya di sekeliling masjid itu saja, dan kemudian api itu pun padam.
Dalam buku karya Djajadiningrat yang berjudul “Tinjauan Kritis tentang sejarah Banten” disebutkan Sulthan Abul Mufakhir bila malam tiba sering berkeliling kampung ditemani oleh penasihatnya yang bernama Ki Cili Duhung. Masalahnya adalah, seluruh putra Raden Kenyep bernama depan Cili, seperti Syekh ciliwulung, Syekh CiliMade, syekh cilikored, Syekh Cili glebeg, syeh Ciliwangsa, syekh Cilibayun dll. Jumlahnya ada yang mengatakan Sembilan ada yang mengatakan duabelas. Apakah Ki cili Duhung yang disebutkan Djajadiningrat itu adalah syekh ciliwulung atau salah seorang dari saudara-saudara syekh ciliwulung. Ataukah Ki Cili duhung adalah nama lain dari Raden kenyep ayah dari Syekh ciliwulung. Wallahu a’lam.
 Muara yang kedua, Syekh hasan bashri mewarisi mustika keulamaan dari sulthan abul Mufakhir. Selain sebagai seorang sultan, Sulthan Abul mufakhir dikenal sebagai ulama yang banyak mengarang kitab. Salah satu buku karangannya yang berjudul Insan Kamil di ‘amankan’ oleh Snouhck hor gronje dan sekarang entah di mana. Ia juga setiap hari setelah urusan kesultanan selesai selalu mengajar pengajian di majlisnya. Di keraton setiap ba’da maghrib ramai para pangeran dan putra-putra bangsawan mengaji al-Qur’an kepada para guru yang ditunjuk sultan. Kraton Banten pada masa sultan Abul Mufakhir bagai sebuah pondok pesantren pusat ilmu pengetahuan. Memang sebelum masa Sultan Abul Mufakhir pun keadaan keraton Surasowan selalu ramai oleh para ulama yang di panggil sultan untuk mengajar para pangeran dan putra bangsawan, tetapi pada masa Sultan abul Mufakhir yang demikian itu semakin terasa kental.
Para pangeran-pangeran Banten harus mampu membaca Al-qur’an dan ahli dalam ilmu-ilmu agama Islam. Demikian itu kemudian menjadikan Banten menjadi sebuah Kesultanan yang sangat kuat memegang tradisi kesantrian sampai sekarang. Bahkan para ulama-ulama yang sekarang hidup di Banten sebagian besar mereka adalah para keturunan sultan
Kembali kepada Syekh Hasan bashri. Di hikayatkan secara tutur tinular (dari penuturan orang tua kepada anaknya), bahwa suatu ketika di musim haji ada seorang yang tertinggal di Makkah ingin pulang ke Banten. Ia berdo’a kepada Allah untuk dapat pulang segera ke Banten. Kemudian ia mendapatkan isyarah bila engkau ingin pulang ke Banten, maka ia harus menemui seseorang yang bersorban hijau yang ada di suatu tempat di lingkungan masjidil haram. Akhirnya ia bergegas mencari orang yang di maksud di tempat yang ditunjukan itu. Benarlah di sana ada seseorang yang sedang tawajuh duduk dengan bersorban hijau. Kemudian ia mengutarakan maksudnya setelah berkenalan. Ternyata orang tersebut tak lain adalah syekh hasan bashri Cakung. Kemudian Syekh Hasan bashri meminta orang itu untuk memegang dengan erat sorban hijaunya dan memejamkan mata. Setelah beberapa lama kemudian Syekh hasan Bashri meminta orang itu membuka mata. Subhanallah, ternyata ia telah berada di atas sebuah bukit yang berada dekat kampungnya di Banten.
Selang beberapa waktu, orang itu datang ke Cakung untuk menemui Syekh Hasan Bashri. Dengan membawa delman yang berisi buah-buahan, sayur-sayuran dan bermacam hadiah lainya ia datang menemui syekh hasan Bashri. Kemudian tersebarlah cerita keramat Syekh Hasan Bashri dengan lebih jelas dan ada saksi hidupnya yaitu orang yang dibantu sang Syekh pulang dari Makkah ke Banten hanya dalam beberapa saat memejamkan mata.
Tak lama setelah kedatangan orang itu, syekh Hasan Bashri mengahadap Allah swt. Dihikayatkan setelah dikubur pada malam hari dari kubur Syekh Hasan Bashri memancar sinar terang ke langit yang berwarna biru selama tujuh malam.
Syekh Hasan Bashri mempunyai anak tiga yaitu:Syekh Ibrohim kuranji, syekh hasan Mustafa Palembang, Nyai ratu syarifah Tirtayasa.
Dari Syekh Ibrohim kuranji sampai sekarang menurunkan para ulama yang banyak berada di daerah Kresek dan gunung kaler. Di antaranya adalah Syekh Makmun bin Muhammad Ali Al Madinah (ayahnya wafat dan di makamkan di Madinah), Syekh Astari Cakung, Syekh Muhammad Amin Koper (ayah dari KH. Ma’ruf Amin, Ketua Dewan fatwa MUI pusat dan Wantimpres SBY) dan syekh Mufti bin Asnawi Srewu pengarang kitab Amtsilatul I’rab dll.
Wallau a’lam bishowaab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar