Selamat Datang di Blog Pesantren Nahdlatul Ulum Cempaka Kresek Tangerang

Kamis, 01 Agustus 2013

KH. HASAN BASHRI KARAWANG (ABAH OBAY)


KH. HASAN BASHRI KARAWANG

(ABAH OBAY)

 Oleh

Imaduddin Utsman

 

KH.Obay Hasan Bashri adalah pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Mursyidul Falah Kampung Sawah Rengas Dengklok Karawang. Beliau mesantren ke Mama Idris, Bendul Purwakarta, seorang ahli Jam’ul Jawami. Kemudian mesantren juga kepada Ajengan Muhdi Citeko Purwakarta, Rajamandala Bandung, Mama Bakri Sempur, Mama Syatibi Gentur, KH. Kholil banjar.

 KH. Obay punya isteri Hj. Halimatussa’diyyah bt. KH. Abdul Manaf, seorang perempuan keturunan Banten.

 Ketika mesantren di Sempur, KH. Obay satu kurun dengan Buya Dimyati Cidahu Banten dan  al-Fakir KH. Hasan Bashri Cigudeg Kedaung Bogor.

 Abah Obay adalah seorang ahli ilmu tauhid, setiap ramadlan berdatangan santeri-santeri senior dari berbagai penjuru untuk mendapatkan cucuran ilmu tauhid dari talang emas Abah Obay yang tak pernah kering. Kitab yang dikaji dibulan ramadlan semuanya adalah ilmu tauhid seperti: Ummul Barahiin, Jawharattawhiid, Assanusi, Hikam dll.

 
Yang meneruskan pesantren Mursyidul Falah adalah anaknya yaitu DR. KH. Mustofa Hidayat, Lc.

PESANTREN WARU DOYONG SUKABUMI

KH BADRUDDIN SHOFIYULLAH
PONDOK PESANTREN AL-WARDAYANI

WARU DOYONG

 

Oleh

Imaduddin Utsman

 

Pondok Pesantren Salafiyah Al-Wardayani  adalah sebuah nama Pondok Pesantren Salafiyah yang di ambil dari nama kampunya yaitu Waru Doyong. Pesantren ini berlokasi di Kampung Warudoyong Desa Margaluyu Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi.

 Pesantren ini didirikan oleh Al-Magfurlah KH. Inayatillah bin Abdul Aziz. KH. Inayatillah adalah salah seorang murid dari Mama Syatibi bin Said dari pesantren Gentur. Mama Syatibi  Gentur adalah murid dari Mama Syuja’I dari pesantren Gudang, Tasikmalaya.

 KH. Inayatillah mempunyai anak KH. Badruddin Sofiyullah, KH. Rohmat, dan KH. Lukman (Pelabuhan Ratu).

 KH. Badruddin Sofiyullah mempunyai anak Ce Nenden yang menjadi Isteri dari KH. Khaer Mahdor Fauzi. Anak yang lainnya adalah KH. Acep Muhammad.

Pesantren Al Wardayani atau yang lebih dikenal dengan pesantren Warudoyong, adalah sebuah pesantren di Sukabumi yang menjadi salah satu referensi pesantren alat di wilayah Pulau Jawa khususnya Jawa barat dan  Banten. Pesantren ini, sepertinya adalah pewaris dari kematangan Mama Gentur dalam bidang ilmu Balaghah

 

Kamis, 04 Juli 2013

MENGENAL KETURUNAN SULTAN BANTEN


MENGENAL

KETURUNAN SULTAN BANTEN

Oleh:
Imaduddin Utsman

 

Keturunan sultan Banten adalah mereka yang silsilahnya bertemu di Sultan Banten pertama yakni Sultan Maulana Hasanuddin. Sultan Maulana Hasanuddin adalah putra Sunan Gunung Jati, salah seorang wali songo. Sunan Gunung Jati adalah keturunan Nabi Muhammad Saw melalui jalur Adzomat Khan. Dengan demikian keturunan sultan Banten adalah keturunan Rasulullah Muhammad saw.

 

Nabi Muhammad saw adalah keturunan Nabi Ibrohim as. Maka keturunan sultan Banten termaksud di dalam do’a-do’a Nabi Ibrohim dalam al-Qur’an untuk para keturunannya. Namun Nabi Ibrohim pun menyadari bahwa mungkin saja ada dari keturunannya yang keluar dari jalur tariqahnya. Maka Nabi Ibrohim berkata “Maka yang mengikuti (jalanku yakni agama islam) maka ia termasuk (keturunan) ku, dan barang siapa yang bermaksiat (tidak mengikuti) jalanku maka sesungguhnya Engkau maha pengampun”.

 

Begitu juga kisah Nabi Nuh as. Ketika salah seorang anaknya ingkar terhadap ajaran Nuh as untuk menyembah Allah Swt., maka Allah mengatakan kepada Nabi Nuh as, bahwa “Dia (kan’an, anak kandungmu) tidak termasuk keluargamau, karena dia beramal yang tidak patut (solih)”.

 

Maka yang dimaksud keturunan sultan Banten, bukanlah sekedar memiliki hubungan titisan darah dari Sultan Maulana Hasanuddin, tetapi dia juga harus istiqomah terhadap jalan yang ditempuh oleh Sultan Maulana Hasanuddin yaitu jiwa perjuangan untuk menegakan Agama Islam di muka bumi ini.

 

CIRI-CIRI FISIK KETURUNAN SULTAN BANTEN

 

Ciri-ciri fisik keturunan Sultan Maulana Hasanuddin bisa dikenali jika keturunan itu konsisten menikahkan anaknya dengan yang masih segaris darah. Dan yang demikian itu sangatlah kecil kemungkinannya. Dalam diri Sultan Maulana Hasanuddin sendiri mengalir darah arab, india,Cina dan Sunda. Darah Arab menitis dari Rasulullah saw. Darah India menitis dari isteri Adzomat Khan yang asli orang India. Dan darah sunda menitis dari ibunya yaitu Nyai Ratu Kawung Anten, juga dari ibunda Sunan Gunung Jati sendiri yaitu Nyai rara Santang putri Prabu Siliwangi.

 

Namun dari ciri-ciri yang sulit ditemukan dari segi fisik tersebut umumnya keturunan sultan Maulana hasanuddin berperawakan sedang dan relative tidak jangkung dan berkulit bersih. Kalaupun ada yang agak jangkung atau hitam, mungkin mengambil garis darah lain dari urutan keturunananya ke atas.

 

Ada juga ciri-ciri dari keturunan Banten adalah mempunyai masalah di gigi mereka. Mungkin hal ini diakibatkan karena kesukaan mereka mekonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula, atau dikarenakan oleh factor genetic.

 

Ciri lainnya adalah berpenampilan sederhana tapi berwibawa. Para sultan banten dengan segala kekayaan kesultanannya adalah para ulama dan pertapa yang tidak terlalu menonjolkan kemewahan. Ia duduk bersama rakyat jelata tak nampak perbedaan mencolok di antara mereka, namun ketika duduk bersama para tamu kesultanan maka nampaklah kemuliaannya.

 

Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa para keturunan sultan Banten mempunyai cirri khusus berupa tanda hitam menyerupai tahi lalat yang berbentuk seperti segitiga di tubuh mereka, namun ini akan sulit dibuktikan karena umumnya kita akan sulit untuk mengetahui bagian tertentu dari tubuh mereka karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang setia menjaga aurat.

 

CIRI-CIRI UMUM KETURUNAN SULTAN BANTEN

 

Ciri yang paling menonjol adalah trah agama yang kuat. Keturunan sultan Banten adalah keturunan para penyebar agama Islam. Maka kemudian jiwa yang diwariskan kepada para keturunannya adalah jiwa keislaman yang kuat. Rajin beribadah adalah ciri paling bisa dibaca. Kemudian kefasihan lisan ketika membaca al-Qur’an juga dapat menjadi ciri khusus, karena lidah mereka juga ada lidah arabnya.

 

Bila mereka berbicara dengan orang lain, maka sedikit sekali mereka mau menatap lawan bicaranya. Ini juga adalah ciri-ciri yang di miliki Rasulullah saw. Mereka menyadari kekuatan tatapannya,  ini akan membuat lawan bicara akan merasa canggung bila terus ditatap oleh para keturunan sultan yang memiliki titisan kekuatan. Hal yang demikian juga dikarenakan secara naluri para penda’I, mereka ingin menempatkan semua orang dalam hati mereka sebagai orang yang baik. Ketika mereka terlalu lama menatap mata orang lain, maka mereka akan mengetahui kwalitas manusia dari sorot matanya, dan ini akan membuat orang lain itu rendah di hadapan mereka. Dan para keturunan Sultan Banten sangat menghindari perasaan merendahkan orang.

 

Ciri-ciri lain keturunan sultan Banten adalah memiliki rasa malu yang kuat. Rasa malu inilah yang membalut akhlak mereka sehingga tidak berbuat hal-hal yang gegabah terhadap orang lain. Tindak tanduk mereka dikontrol oleh rasa malu yang kuat. Rasa malu ini kemudian disaat tertentu bisa menjadi himyah  atau rasa gengsi yang bisa ditafsiri orang lain sebagai rasa angkuh.

 

mereka juga humoris disaat-saat tertentu, terutama kepada sahabat-sahabat dekat. Bahkan orang yang tidak mengenal mereka bisa menganggap mereka orang yang tidak terhormat bila para keturunan sultan sedang berbicara dengan sahabat-sahabat mereka. Karena rasa kedekatan hati mereka dengan sahabatnya akan menghilangkan segala sekat penghalang di antara mereka. Mereka adalah orang-orang yang berhati tulus dan setia dengan para sahabat. Demi sahabat mereka rela untuk berkorban apa saja, bahkan mereka akan membela sahabatnya yang terdzolimi walau harus dengan taruhan nyawa mereka.

 

Para keturunan sultan Banten juga dapat ditengarai dengan tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang sepele dan bersifat tehnis. Cenderung cepat mengambil keputusan dan  pemberani. Hal demikian ini mengakibatkan mereka terkesan gegabah  dalam hal-hal yang menurut orang lain mesti difikirkan matang. Biasanya mereka tidak bisa dicegah atas apa yang mereka yakini, kecuali ada dalil yang kuat yang mematahkan keyakinan mereka. Ini  pula kemudian menjadikan mereka terkesan sombong. Tetapi ketika kebenaran itu telah Nampak, maka mereka akan menerima dengan serta merta walau dating dari musuh sekalipun.

 

Nada bicara mereka juga bergelora, bersemangat, tulus, to the ponit dan apa adanya, tidak dibuat-buat dan hampir tanpa basa-basi. Ketika mereka berbicara dengan orang yang dihormati maka mereka akan sedikit berbicara, jika terpaksa bicara, maka mereka akan bicara dengan sopan sekali.

 

TUGAS KEHIDUPAN PARA KETURUNAN SULTAN BANTEN

 

Para keturunan sultan Banten mempunyai tugas kehidupan yang berat. Mereka harus menjaga nama baik leluhur mereka yang menjadi penyebar agama islam. Maka jiwa kecintaan terhadap agama islam itu setiap generasi harus meniupkannya terhadap generasi berikutnya. Atau kalau tidak jiwa-jiwa suci itu setiap generasi akan pudar, dan kemudian hilang tanpa bekas sama sekali, naudzubillah.

Dalam memilih menantu, hendaklah mengedepankan yang ada kaitan nasab dengan keturunan yang sama atau yang segaris darah dari sultan Banten, atau paling tidak yang diketahui kesalehan keluarganya yang dapat ditengarai dengan menutup aurat, memakai hijab/jilbab, rajin solat lima waktu dan puasa ramadlan.

 

Setiap generasi harus menyadari bahwa menjaga Islam dan kemuliaanya adalah pilihan Allah kepada para keturunan sultan Banten, untuk selalu dijaga, dipelihara, diperluas dan dilindungi dengan segenap daya dan upaya, dengan taruhan apapun termasuk nyawa. Apapun tugas kehidupan yang diemban, sebagai apapun kedudukannya dimasyarakat, tetapi jiwa keislaman itu harus tetap melekat dihati. Niyat kehidupan setiap keturunan sultan Banten haruslah untuk kemuliaan islam. Lain tidak. Titik.

 

PROFESI YANG IDEAL UNTUK PARA KETURUNAN SULTAN BANTEN

 

Sebenarnya manusia tidak dilihat dari apa kedudukannya tapi dilihat dari ketakwaannya. Tetapi setiap manusia memiliki kecendrungan yang berbeda-beda dalam mengarungi kehidupannya. Keturunan sultan Banten bukanlah orang-orang yang teruji di atas dunia,  yang telah teruji baik dalam menjalani kehidupan adalah para leluhurnya. Tapi hendaknya para leluhur itu menjadi spion untuk menjadi barometer ia menjalani kehidupan, minimal kita mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

 

Profesi yang ideal bagi keturunan sultan Banten adalah menjadi para ulama dan kiayi, karena di masa yang seperti sekarang ini, ketika hukum-hukum Allah tidak dijadikan landasan utama kehidupan masyarakat oleh negara, maka bingkai kesultanan dulu yang tujuan utamanya adalah menyebarkan Islam, bisa dilakukan dengan membuka lembaga pendidikan yang berkarakter islami seperti pondok pesantren.

 

Selain itu menjadi pedagang adalah sesuatu profesi yang baik dipilih oleh para keturunan sultan. Para sultan Banten juga adalah para pedagang yang handal untuk menghidupi rakyatnya.

 

Terjun ke dunia politik juga bisa dipilih. Para keturunan Sultan Banten bisa memilih partai-partai yang seirama untuk memuliakan Islam. Bahkan dianjurkan para keturunan sultan, di masa demokrasi ini, untuk ikut serta dalam pilpres, pilgub dan pilbup, agar jiwa-jiwa keikhlasan kembali menjadi pemimpin untuk kesejahteraan rakyat.

Menjadi tentara atau polisi juga adalah tepat, karena jiwa herois yang menitis dari para sultan yang pada zamannya langsung memimpin pertempuran memerlukan penyaluran yang proporsional.

 

Bertani juga bisa dipilih karena para sultan Banten dulu orang-orang yang konsen terhadap peningkatan pertanian. 

Singkatnya hendaknya para keturunan sultan Banten memilih profesi yang bermartabat dan banyak manfaat untuk orang lain, terutama yang bisa juga di dalamnya berkiprah untuk ketinggian agama Islam. dan hendaknya menghindari profesi yang berhubungan dengan barang-barang yang najis dan profesi yang telah diatur dalam ilmu fiqih akan mengurangi mukafa'ah, seperti yang berkaitan dengan sampah, yang berbungan dengan darah, barang-barang bekas, calo, dsb.

 

PENUTUP

 

Manusia di mata Allah bukan dilihat dari tubuh mereka, bukan dilihat dari bentuk mereka, tetapi dilihat dari hati mereka. Manusia yang paling mulia di mata Allah bukanlah dilihat dari keturunan siapa dia, tapi dilihat dari ketakwaannya. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Maka tidak pantas kita membanggakan diri sebagai keturunan orang-orang yang solih, sementara tingkah laku kita jauh panggang dari api, jauh melenceng dari jalan yang dulu mereka pilih. Semoga, ya Allah, Engkau jaga diri Kami dan keturunan Kami dari perbuatan maksiat, berjudi, berzina, meminum minuman keras, berlaku dzolim kepada manusia. Ya Allah jadikanlah Kami dan keturunan Kami orang yang senantiasa mencaintai agama Islam, seperti Kakek-Kakek Kami mencintainya, menyebarkannya dan membelanya. Sehingga Kami tidak akan malu berjumpa dengan kakek-kakek Kami yaitu orang-orang yang mencintaiMu, nabiMu dan IslamMu, melebihi kecintaan mereka terhadap diri mereka sendiri. Amin.

 

Selasa, 02 Juli 2013

SULTAN BANTEN SEKARANG: KANGJENG SULTAN MAULANA MUHAMMAD AS-SHAFIYUDDIN



SULTAN MAULANA MUHAMMAD AS-SHAFIYUDDIN:
SULTAN BANTEN SEKARANG


Pada tahun 1809 Sultan Muhammad Shafiyuddin bin Sulthan Muhyiddin Zainussolihin  menolak permintaan  H.W. Daendels untuk memindahkan Ibukota Kesultanan  Surosowan Banten ke Anyer. Daendels mengutus Peter de puy untuk berunding. Namun bukannya Sultan menerima, alih-alih Sultan Safiyuddin memenggal kepala Peter de Puy.

Pemerintah belanda murka dan membumihanguskan keraton Surosowan yang terletak di sebelah selatan masjid Agung Banten itu. Sultan Maulana Muhammad Shafiyuddin kemudian dibuang ke Surabaya. Untuk menggantikan kedudukan sultan Banten, Belanda mengangkat Joyo Miharjo, bukan keturunan Banten, sebagai sultan boneka dengan gelar Sultan Muhammad Rafiuddin.

Kini setelah lebih kurang duaratus tahun, datang ke Banten keturunan sah dari Sultan Maulana Muhammad Shafiyuddin yang bernama Pangeran Ratubagus Hendra Bambang Wisang Geni.

Pada tanggal 17 Sya’ban 1434 H atau tanggal 26 Juni 2013, Pangeran Ratubagus Hendra Bambang Wisang Geni mendatangi keturunan Pangeran Jaga Lautan atau Pangeran Sabrang Lor di Pulau Cangkir. Hadir dalam acara itu Ketua Umum Majlis Amanah Sultan Kanoman Cirebon untuk kepengurusan makam keramat Pulau Cangkir KH. Tb. Fathul Adzim Chotib, Ketua Umum Dzuriyat Pangeran Jaga Lautan KH. Maujud Astari, DR. Mufti Ali, Direktur Bantenologi IAIN Serang, perwakilan dari keturunan Sultan Agung Tirtayasa, perwakilan keturunan Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir, perwakilan keturunan Pangeran Sunyararas dan para tokoh ulama.

Dalam pertemuan itu di jelaskan oleh pakar dan peneliti sejarah Banten, DR. Mufti Ali, bahwa Pangeran Ratubagus Hendra Bambang Wisang Geni adalah pewaris yang sah kesultanan Banten sekarang karena ia adalah keturunan sultan Banten yang terakhir.

Maka pada lewat tengah malam rabu tanggal 17 Sya’ban 1434 hijriyah bertempat di Makam keramat Pangeran Jaga Lautan, KH. Imaduddin Utsman, S.Ag., MA. Dan KH. Mulyadi Hasan Aryadilla mewakili keturunan Sultan Abul Mafakhir dan Pangeran Jaga Lautan, mendukung, mengikrarkan dan mentasbihkan Pangeran Ratubagus Hendra Bambang Wisang Geni sebagai Sultan Banten ke 18, dengan gelar Sultan Maulana Muhammad As-Shafiyuddin. 

Kamis, 06 Juni 2013

PONPES NAHDLATUL ULUM: MENGENAL TRADISI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH

PONPES NAHDLATUL ULUM: MENGENAL TRADISI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH: MENGENAL TRADISI PESANTREN SALAFIYAH Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum tetap konsisten dalam pengajaran tafaqquh fiddin dalam...

MENGENAL TRADISI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH



MENGENAL TRADISI PESANTREN SALAFIYAH

Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum tetap konsisten dalam pengajaran tafaqquh fiddin dalam arti pokok pengajaran Pondok Pesantren ini adalah menciptakan generasi yang betul-betul faham terhadap ajaran Islam dengan menjadikan para santri dapat membaca kitab kuning.

Setelah santri dapat membaca kitab kuning maka dengan sendirinya ia akan memahami ajaran agama dari sumbernya yang asli. Banyak buku terjemahan dari bahasa arab yang ternyata terjemahan itu melenceng dari maksud yang sebenarnya. Akhirnya para muballig, ustad yang hanya bersandar pada buku terjemahan akan tersesat dari makna dan maksud pengarang kitab yang akan berkonsekwensi logis terhadap tersesatnya umat.

Inilah yang sangat ditakutkan oleh Pondok pesantren Salafiyah NU. Zaman sekarang banyak sekali pondok pesantren yang mulai bergeser dari khittah pondok pesantren, mereka menjadikan pondok pesantren hanya sebagai basis pendidikan akhlak dan mengajarkan sesuatu yang sebenarnya bisa diajarkan hanya dengan system kursus, seperti kelihaian berbicara dengan bahasa arab dan inggris namun tidak menjadikan santri sebagai generasi pewaris para ulama yang mutafaqqih fiddin. Mereka hanya menjadi layaknya siswa umum yang mendapat tambahan hidup mandiri dan pendidikan keislaman standar awam.

Ghirah da’wah para Nabi dan para wali du’at penyebar agama yang penuh dengan keihlasan dan perjuangan akhirnya tidak dimiliki oleh para santri model seperti itu, bahkan cita-cita para santrinya pun jauh untuk berkeinginan menjadi para ulama, mereka hanya menjadi pejabat yang islami, pedagang yang islami, birokrat yang islami, politisi yang islami dsb tapi mereka bukan ulama yang fasih berbicara hokum islam kecuali hanya kulit luar yang tipis.

Sementara Pondok Pesantren Salafiyah NU, berkeyakinan bahwa jiwa ulama itu harus menghujam dulu di dalam jiwa; ia harus mutafaqqih terlebih dahulu, lalu ia bisa menjadi apapun. Di manapun posisi kehidupan ia kelak,  ia adalah seorang ulama yang gerak hati dan cita-citanya berbalut niyat dan perjuangan  menyebarnya agama islam di muka bumi. Maka risalah para Nabi pun kemudian diwarisi oleh para santri semacam ini. dan akan lestarilah ajaran-ajaran al-Qur’an dan Sunnah, bukan hanya ajaran luar yang kasar dan tipis, tapi juga nilai dan rasa yang hanya dicicipi oleh para nabi dan pewarisnya.

Nilai perjuangan, ketabahan, kesabaran, keikhlasan, tawaddu, sidiq, tabligh, amanah dan fatonah nanti bukan hanya selogan tanpa rasa, tetapi menghujam dalam setiap pori-pori dan meresap kedalam jiwa. Lalu Khosyatullah (ketakutan kepada Allah Swt) akan melingkupi setiap langkah dan geraknya. Ciri-ciri yang ditegaskan oleh Al-Qur’an untuk mengidentifikasi ulama adalah khosyyatullah. Untuk mencapai derajat khosyatullah itu perlu pencapaian ilmiyah. Seseorang yang telah mencapai derajat keilmuan tertentulah yang dapat memiliki khosyatullah, maka ilmu para ulama itulah yang pertama kali harus diwariskan kepada para santri untuk mencapai derajat ulama yang bersimultan dengan mencapai khosyatullah. Lalu apakah pesantren yang hanya mengajarkan ‘ngomong’ arab dan inggris tanpa urutan yang jelas dalam mencapai derajat ulama itu bisa mencapai khosyatullah? Sekali-kali tidak!

Apalagi bila di pesantren itu juga terdapat hal-hal yang menjauhkan dan melalaikan dari Allah Swt. Seperti adanya alat-alat musik yang diharamkan. Banyak pesantren modern yang kemudian mengikuti zaman dengan alasan agar pesantren dapat diterima orang-orang modern dan tidak ketinggalan zaman. Padahal tugas pesantren salah satunya adalah menjaga akhlak dan peradaban manusia agar tetap sesuai dengan ajaran Allah dan rasulullah, bukan malah tunduk dan tersungkur oleh ajaran-ajaran iblis yang dikembangkan oleh para pemujanya yaitu dari golongan orang-orang kafir.

KEBANGKITAN PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DI BANTEN

Di Banten, terdapat ratusan pondok pesantren salafiyah yang eksis, walaupun data menunjukan adanya ribuan, tetapi penulis kira yang diakui eksistensinya oleh masyarakat mungkin hanya ratusan.

Pesantren salafiyah di Banten ada sejak zaman kesultanan Banten. Ilmu agama berkembang di kesultanan Banten didukung oleh para sultan Banten yang memang para ulama penyebar agama Islam. Setelah kesultanan Banten runtuh pesantren tetap eksis.

Di Cakung-Kresek pesantren telah ada sejak zaman Syekh Ciliwulung (1650 M) ulama pengkader para mufti kesultanan Banten. Putra Syekh Ciliwulung yang bernama Syekh Sa’aduddin (Ki Saudin) mendirikan pesantren di Lempuyang Tanara. Syekh Hasan Bashri bin Nyi Ratu Fatimah binti Syekh Ciliwulung mesantren di pesantren Lempuyang asuhan pamannya itu, Kemudian Syekh Hasan Bashri melanjutkan syekh Ciliwulung mengasuh pesantren di Cakung (1700 M).

Setelah masa Syekh Hasan Bashri, di cakung banyak muncul ulama-ulama yang melanjutkan tradisi pesantren salafiyah, seperti Syekh Abdullah bin Syekh hasan Bashri, Syekh Nururrahim bin Pangeran Abdul Muid bin Sultan Haji. Dan Syekh Alim bin Syekh Abdullah bin Syekh Ibrohim yang mendirikan pesantren di Kresek. Lalu awal abad Sembilan belas di Cakung muncul Syekh Syarif guru dari Syekh Nawawi Tanara. Pada masa Ki Syarif juga ada seorang ulama yang mengarang kitab syarah awamil yaitu Syekh Muhammad Ali Al-Madinah bin Syekh Soiman. Syekh Muhammad Ali wafat di Madinah Al-Munawwaroh maka oleh karena itu ia di kenal dengan Al-Madinah. Syekh Muhammad Ali Al-Madinah mempunyai menantu yang bernama Muhammad Ali juga yang mendirikan pesantren di cakung pada akhir abad 19.

Selain itu pada awal abad 20 di Cakung muncul  Syekh Jahari dan Syekh Maderan, yang keilmuan dari keduannya diakui pada masanya. Selain mereka berdua, Syekh Astari bin Ishaq dan syekh Ma’mun bin Muhammad Ali al-madinah serta Syekh Muhammad Amin bin Abdullah kemudian menjadi tiga  orang yang sangat mewarnai keilmuan wilayah Banten yang berasal dari Cakung.

Di Laes Keragilan muncul Syekh sufyan, ia adalah salah seorang dari murid syekh Nawawi tanara di Makkah.

Sementara itu awal abad 20 juga dapat di cirikan dengan telah meratanya nilai kesantrian ke seluruh wilayah Banten. Pesantren Salafiyah kemudian berkembang diwilayah selatan. Syekh muqri Abdul hamid Karabohong, Syekh Abdul Halim kadupesing, Syekh Carita, Syekh Asnawi caringin, Syekh Suhaimi padarincang, Syekh tohir Pelamunan, Syekh Abdulatif cibeber, syekh Ahmad Sidiq Cengkudu, Ki Syam’un Citangkil adalah beberapa nama ulama pesantren  yang dapat disebutkan dalam periode ini.

Generasi pesantren Banten berikutnya adalah masa mulai tahun 1950-an sampai akhir abad duapuluh dan awal-awal abad duapuluh satu. Masa ini melahirkan para ulama pesantren salafiyah seperti Abuya Dimyati Cidahu Cadasari Pandeglang, Abuya Sanja Kadukaweng Pandeglang, Abuya Mufti bin Asnawi Cakung-Srewu Binuang Serang, Abuya Bustomi Cisantri pandeglang, Abuya Syanwani Sampang Tirtayasa Serang, Abuya Luzen Pelamunan Serang, Ki Tubagus Hasuri tohir Kaloran Serang, Ki Abad Cengkudu Baros Serang, Ki Yusuf Caringin Cisoka Tangerang, Ki Dimyati Cilongok Tangerang dlsb.

Kemudian awal abad duapuluh satu muncul ulama-ulama yang tetap konsisten dengan tradisi salafiyah yang kental. Di antara mereka adalah para penerus generasi sebelumnya dan sebagiannya lagi adalah membuka pesantren yang baru. Di masa ini kita bisa sebutkan nama seperti Ki Mufassir atau Ki Munfasir Barugbug Serang, Ki Muhtadi bin Abuya Dimyati, Ki Uci Kurtusyi bin Ki Dimyati Cilongok Tangerang, Ki Umni bin Abuya Luzen pelamunan  Serang dlsb.

Di masa inilah berdiri Pondok pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum Cempaka Kresek Tangerang Banten.

Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum di asuh oleh seorang pengasuh yang sangat kental dalam tradisi pesantren salafiyah. Ia berguru hampir kepada seluruh ulama besar yang berbasis pesantren salafiyah di Banten pada masanya. Dalam saat yang sama ia juga adalah seorang yang berpendidikan perguruan tinggi sampai jenjang strata dua (Master) dari perguruan tinggi yang ternama. Jenjang S1 ia kuliyah di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin. Di Institut yang diberi nama dengan nama buyutnya ini ia mengambil jurusan Dakwah. Kemudian S2 ia mendapat beasiswa untuk kuliyah di IIQ (Institut ilmu Al-Qur’an) Ciputat mengambil konsentrasi ilmu Tafsir.

Berbeda dengan Pesantren Salafiyah yang lain, Pondok pesantren salafiyah NU mengakomodir pendidikan formal MTs/MA. Tetapi tanpa mengurangi nilai-nilai warisan salafiyah sedikitpun. Bahkan, belajar pelajaran formalpun dilaksanakan dengan tradisi salafiyah yang kental. Para santri ketika sekolah MTs/MA menggunakan busana santri bukan pakaian seragam ala sekolah biasa. Ini dimaksudkan agar nilai dan tradisi salafiyah tetap melekat dalam diri santri NU. Hal ini terinspirasi dari pesantren-pesantren salafiyah yang dikembangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Diharapkan dari model seperti ini akan dihasilkan para kiayi/ulama yang ahli hukum agama (pandai membaca kitab klasik/kuning) pada saat yang sama ia dapat menjawab dengan pasih masalah-masalah kekinian baik masalah fikih kontemporer, politik dan social kemasyarakatan. Ia pun tidak akan termarginalkan dalam kehidupan global karena ia memiliki modal pendidikan umum yang memadai dan ijazah yang terkadang menjadi sarat kegiatan tertentu.



                              




Selasa, 02 Oktober 2012

DEWAN GURU 2014


 DEWAN GURU PONPES SALAFIYAH NAHDLATULUM CEMPAKA 2014
1.       K. MUHAMAD SYAFII
2.       KH. IMADUDDIN UTSMAN, S.AG. MA
3.       IMA RAHIMAH, S.AG
4.       ABDUL MUID, SHI
5.       ALI MUSA
6.       K. SYA’RANI
7.       KH. ALI RIDLO
8.       A. RIFA’Í SUFYAN
9.       K. NABHANI
10.   RIDLALLAH, S.PD.I
11.   MUSYRIFAH MUSTAR, S.PD.I
12.   SUBCHI SYARANI, S.PD.I
13.   MUTHAHAROH, S.PDI
14.   NURLAILI, S.PD
15.   SYIFAUNNAJIYAH, S.PD.
16.   BAJALI SYARIF, S.PD.I
17.   BAHRUL KHAUFI, S.PD.
18.   LATIFAH ARYENI S, S.PD.
19.   SADIKIN SAID
20.   SUHAIRIYAH, S.PD.I
21.   M. AFIF S, S.PD.I
22.   MAHDI, S.PD.I
23.   SAIDAH, S.PD.I
24.   MURNIATI, S.PD.I
25.   NIKAMTULLAH, S.Pd.I
26.   BAHRUL ULUM, S.KOM
27.   MUFLICHAH MUSTAR
28.   IDA FARIDA
29.   NURUL RIVSI F
30.   ROHILAH, S.Pd.I
31.   MILA SARMILA
32.   DEDI MAULANA
33.   SULAILAH MAWARDI
S33. SULAIMAN, S.Pd.I
34.   SAMANI HALIMI, S.Ud
35. ABDURRAUF, S.Ud
36. AHMAD SYAIKHU, S.Sos.I
37. MUHAMMAD ABDUH